Wawan “Culture Warrior” Negeri Seribu Benteng#4

Saat ini Area Benteng Keraton Buton membutuhkan galeri-galeri untuk menyimpan berbagai peninggalan budaya. Oleh karena itu Wawan berencana mendirikan sebuah galeri berisi peninggalan Budaya Buton yang termasuk Uang Kampua di dalamnya. Sebab terkadang, Wisatawan yang datang, mereka tidak percaya akan keberadaan uang langka itu, sehingga harus ada sarana yang mempertontonkan warisan budaya tersebut.

            Setelah menjalankan berbagai program untuk menjaga dan melestarikan situs budaya, progres sadar wisata dan budaya oleh masyarakat cukup baik dan meningkat. Jika dulunya masyarakat acuh tak acuh dengan warisan budaya, bahkan enggan menggunakan kearifan lokal yang ada, saat ini masyarakat justru bangga dan mencintai budaya yang mereka miliki. Wawan menjelaskan, di tanah Buton banyak benda-benda warisan budaya yang sampai saat ini bisa digunakan, misalnya Kampurui yang merupakan ikat kepala seorang pria pada masa Kesultanan Buton.

Jual Kampurui Pejabat (Baubau - Buton) - Kota Bau Bau - Buton Island Shop |  Tokopedia

  “Beberapa tahun lalu, banyak pemuda yang tidak mau menggunakan Kampurui karena malu, padahal itu salah satu identitas masyarakat Buton. Seiring waktu, sekarang banyak pemuda yang menggunakan Kampurui dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Dapat dilihat ketika berkunjung ke Benteng Keraton Buton, banyak pemuda yang telah menggunakannya.”, ujar Wawan.

            Dalam suatu upaya tentu akan berhadapan dengan berbagai kendala dan hambatan. Namun terkadang hal itu justru menjadi motivasi dalam berjuang. Wawan menuturkan, saat mengelola Media Center Benteng Keraton Buton ia mengalami beberapa hambatan. Banyak pihak yang ingin mengacaukan usaha Wawan dalam menjaga situs-situs budaya yang ada di Benteng Keraton Buton.  

“Pada awal saya mendirikan media center, ada berbagai pihak yang ingin membubarkannya. Mereka mengumpulkan tanda tangan bukti penolakan keberadaan media center Benteng Keraton Buton. Opini yang tersebar ditengah masyarakat bahwa media center tidak perlu didirikan. “Buat apa didirikan, tidak ada gunanya, buang-buang waktu saja” kata mereka. Meski dihadapkan dengan berbagai cobaan, saya dan rekan-rekan tetap berusaha. Saya menyampaikan kepada rekan-rekan anggota media center untuk tetap bersabar dan ikhlas dalam menjalani kegiatan ini, kita cukup membuktikan dengan perilaku” imbuh Wawan.