Taman Baca Kapoa Membangun Literasi Bangsa-3

Faktor lingkungan mempengaruhi minat baca masyarakat sebab lingkungan merupakan tempat pertama dalam belajar. Generasi muda yang berasal dari lingkungan  bagus atau layak akan cenderung lebih paham dan bisa menggunakan pikirannya dengan baik sehingga mengetahui manfaat dan pentingnya membaca untuk masa depan mereka.

Langkah awal yang dilakukan oleh Faris untuk merubah kebiasaan kurang berliterasi dikalangan generasi muda yaitu dengan cara pendekatan dan sosialisasi agar perspektif terhadap pendidikan bisa berubah. Tentunya perspektif ini dibutuhkan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Sehingga ilmu yang mereka peroleh akan dikembangkan dan bermanfaat dimasa akan datang.

Generasi muda bisa saja menyukai literasi atau menjadikan membaca sebagai hobi. Namun hal itu akan terjadi jika bacaan mereka seperti yang diinginkan. Giat belajar bila ada waktu luang, topik yang menarik dan informatif, serta bacaan yang dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan. Salah satu penyebab generasi muda tidak suka membaca karena bahan bacaan yang membosankan dan tidak menarik sehingga mereka cenderung tidak menghiraukan manfaat dari membaca.

Banyak buku dengan model penulisan yang hambar dan kerap ditemukan kata-kata yang sukar dipahami. Apalagi buku tidak disertai gambar dan hanya berisi tulisan, hal itu akan membuat pembaca menjadi bosan. Bahan bacaan yang tidak disertai gambar akan membuat anak-anak anti terhadap buku sehingga sering kali dihindari.

Generasi muda cenderung labil dalam berfikir, permasalahan ini harus diatasi dengan cara yang cemerlang. Faris memiliki cara tersendiri untuk mengatasinya, yaitu dengan membuat taman baca kapo’a. Taman baca yang ia dirikan memiliki premis yang kuat dalam landasan untuk akselerasi minat berliterasi anak muda. Hal ini sangat efektif karena didukung oleh fakta bahwa taman baca kapo’a sesuai dengan kebutuhan generasi penerus bangsa agar tidak bosan dalam berliterasi.

Mayoritas Generasi Muda terlalu sering bermain game, inilah yang menjadi keresahan Faris sehingga memutuskan untuk membuat taman baca kapo’a. “Anak muda sekarang seringkali bermain game di smartphone seperti tidak memiliki kesibukan lain, sehingga harus ada yang kami berikan atau ajarkan untuk menghilangkan kebiasaan tersebut. Saya berdiskusi dengan teman-teman, bagaimana kalau kita mendirikan taman baca ? sebuah tempat untuk berkumpul tetapi mereka dapat belajar di dalamnya. Kebiasaan mereka akan teralihkan, awalnya berkumpul hanya untuk main game, perlahan akan berubah  membaca buku, diskusi, bercerita, dan saling bertukar bacaan”, jelasnya….