Taman Baca Kapoa Membangun Literasi Bangsa-2

Kurangnya sarana pendidikan seperti buku membuat anak-anak sulit mengembangkan minat serta tradisi berliterasi. Kita tidak bisa menghakimi dengan mengatakan “ada banyak kok buku yang tersedia di toko buku atau lainnya”. Memang mereka dapat melihat banyak tulisan melalui platform online, namun mereka sama sekali belum memiliki kesadaran mengenai pentingnya membaca. Di sini diperoleh dua hal, bahwa rendahnya minat literasi generasi bangsa bukan karena kurangnya kesadaran akibat perkembangan teknologi saja, melainkan kurang meratanya sarana dan prasarana pendidikan.

Seiring berkembangnya zaman sering ditemukan banyak anak yang menggunakan gadget, entah untuk bermain game atau bermedia sosial. Perangkat itu memang menawarkan kemudahan yakni dapat mengakses atau mengunduh aneka produk literasi seperti buku, artikel, hingga karya sastra versi elektronik. Namun, hal ini menjadi problem ketika generasi muda hanya menggunakan gadgetnya untuk mengakses game saja. Semangat dan budaya berliterasi harus terus dikembangkan, hal tersebut bisa dimulai dari lingkungan sekitar seperti sekolah, keluarga dan tempat tinggal.

Sebuah tantangan dihadapi oleh Muh. Faris Hidayat, selaku pendiri dari Taman Baca Kapo’a untuk meningkatkan minat berliterasi anak-anak pada era digital. “Banyak orang berkata, untuk apa  membuat taman baca ? sekarang mencari informasi menggunakan handphone, tidak menggunakan buku”, katanya. Mindset tersebut secara tidak langsung membuat pendidikan kita merosot. Ada satu hal yang perlu diingat bahwa tidak semua pengguna smartphone akan mengakses informasi melalui perangkat elektronik tersebut, terlebih bagi anak-anak. Peforma anak dalam mencari informasi dan membaca melalui platform internet sangat rendah di Indonesia.

Tentu saja hal tersebut tidak menjamin jika mereka memiliki gadget, mereka akan menggunakannya untuk mencari informasi atau membaca buku online. Sebagian besar generasi penerus bangsa kurang antusias mencari referensi yang dapat digunakan untuk belajar, padahal semuanya dapat diakses secara gratis melalui gadget yang mereka miliki. Media yang ada menjadi tidak berguna ketika mereka tidak memiliki ketertarikan membaca. Bahkan istilah buku adalah jendela dunia sudah tidak dihiraukan lagi oleh generasi muda.

Sangat miris ditemukan di berbagai tempat, banyak generasi muda yang lebih memilih bermain gawai dari pada belajar. Negara ini membutuhkan orang yang cerdas dan memiliki penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang baik. Pelajar merupakan generasi penerus bangsa yang dapat merubah arah bangsa ini untuk lebih baik dari sebelumnya. Sebagai generasi muda yang menjadi harapan bangsa harus meningkatkan mutu pendidikan pada diri masing-masing.

“Banyak hal baru diperoleh ketika generasi muda gemar membaca buku. Beda rasanya ketika membaca buku secara langsung dengan membaca buku yang bersumber dari internet. Membaca secara langsung akan diketahui alur berpikir sebuah buku. Penulisnya akan menggiring mulai dari pembuka hingga inti dari buku yang dibaca”. papar Faris. Lebih lanjut dia menjelaskan, dalam komparasi dengan mengakses melalui gadget didapat hanya sedikit dari bahan bacaan. Namun melalui buku akan disajikan sebuah landasan berpikir yang secara perlahan akan memperluas wawasan….