Wawan “Culture Warrior” Negeri Seribu Benteng

oleh : Rambu Reninta Kanaya Lamba Awang (Siswi SMA Negeri 1 Baubau, Kelas XII IPA 8)

Era revolusi industri 4.0 membawa dampak besar bagi kelestarian budaya daerah,  baik pada nilai-nilai budaya maupun situs-situs peninggalan nenek moyang. Kesadaran kaum muda harus terus digali untuk  memaksimalkan pelestarian budaya. Terkadang, nilai-nilai serta situs budaya terbengkalai akibat kurangnya kesadaran generasi muda.

            Seorang Pemuda asal Kota Baubau bernama Wawan nekat keluar dari zona nyaman untuk mengurus dan menjaga situs peninggalan budaya yang ada di Benteng Keraton Buton, Kota Baubau. Suatu Kota dengan julukan Kota Seribu Benteng memiliki banyak peninggalan sejarah masa lalu, di dalamnya terdapat ragam situs budaya eks-Kesultanan Buton yang perlu diberi perhatian lebih oleh generasi muda agar tetap terjaga eksistensinya. 

Wawan mengatakan, eksistensi budaya saat ini patut disyukuri karena adanya Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat. Bentuk Kolaborasi itu dibuktikan dengan banyaknya ragam sanggar budaya yang terbentuk di beberapa wilayah kelurahan. Meskipun begitu, bukan berarti eksistensi budaya sepenuhnya akan terjaga, tidak boleh terlena hanya karena ada sanggar budaya sehingga merasa tidak perlu lagi memberi perhatian pada kebudayaan yang ada. Jika kesadaran masyarakat terus meningkat, maka kebudayaan di suatu daerah akan tetap lestari.

            Awal perjuangan Wawan dalam memelihara serta melestarikan Budaya Buton cukup panjang. Pada 2013, ketika kembali dari rantau pasca menyelesaikan studi sarjana, awalnya Ia bekerja sebagai Pedagang pakaian selama 2 tahun di Kawasan Wisata Budaya Benteng Keraton Buton. Saat itu Wawan melihat minimnya kesadaran Masyarakat tentang Pelestarian Budaya.

            “Saat saya bekerja sebagai penjual pakaian, saya kerap mendapat laporan mengenai gangguan terhadap pengunjung di Kawasan Benteng Keraton Buton, hal tersebut memicu berkurangnya Wisatawan yang datang. Tahun 2013 – 2014 Benteng Keraton bukanlah tempat wisata yang ramai, sehari paling banyak 20 wisatawan yang datang.” jelas Wawan.

__Terbit pada
26 September 2021
__Kategori
Block

Penulis: Journalist Smansa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *