Taman Baca Kapoa Membangun Literasi Bangsa

Oleh : Rambu Reninta Kanaya Lamba Awang

Pada era digital 4.0, teknologi berkembang pesat. Khususnya di Indonesia, banyak kekhawatiran yang mungkin saja terjadi, salah satunya dengan rendahnya literasi generasi bangsa. Literasi adalah hal penting untuk dihadapi dalam pendidikan suatu negara. Indonesia sedang mengalami krisis literasi yang membuat pendidikan di negara berkembang ini cukup merosot. Kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi menjadi salah satu konsideran “mengapa tingkat literasi di Indonesia sangat rendah ?”.

Dengan berliterasi, generasi muda penerus bangsa dapat membuka cakrawala dunia sehingga akan tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Indikator dari majunya sebuah bangsa adalah kualitas pendidikan bangsa tersebut. Ketika keduanya dikembangkan, maka akan tercipta dampak besar yaitu kemajuan suatu negara. Dalam dunia pendidikan salah satu tantangan terberat yaitu mencetak lulusan yang berkualitas, namun untuk mencapainya harus meningkatkan literasi. Indonesia merupakan bangsa dengan tingkat literasi yang sangat rendah, menurut data UNESCO berada diurutan kedua paling bawah yaitu 0,001%, artinya dari 1000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca. Tentu keadaan ini sangat memprihatinkan, bagaimana bisa menyongsong generasi emas 2045 sedangkan tingkat literasi masih di bawah rata-rata.

Banyak yang belum sadar akan dunia literasi, sebagian menganggap bahwa literasi hanyalah kemampuan membaca dan menulis, padahal literasi tidak sesempit itu, literasi juga merupakan kemampuan untuk memahami dan menelaah informasi yang telah didapatkan atau melalui sesuatu yang dibaca. Kesadaran akan pentingnya kemajuan dan masa depan bangsa memang tidak hanya dinilai dari tingkat literasi, namun ketika dilihat secara historis dan sosiologi tingkat literasi yang tinggi adalah salah satu faktor terbesar yang paling mendukung bangsa dan masyarakatnya untuk maju. Masyarakat juga harus memiliki kesadaran bahwa kemajuan dan keunggulan individu ditentukan oleh adanya tradisi dan budaya literasi yang baik.

Untuk membangun literasi suatu bangsa juga sangat dibutuhkan sebuah faktor pendukung. Faktor pendukung yang dimaksud adalah komunitas-komunitas yang peduli dan memiliki semangat untuk menumbuhkan dan menyebarluaskan kegiatan, tradisi, dan budaya literasi di lingkungan masyarakat dan lingkungan pendidikan. Beranjak dari kutipan Milan Kundera “Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka tentu bangsa itu akan musnah”. Hal itulah yang mendorong terbentuknya sebuah Taman Baca Kapo’a yang terletak di kota Baubau, provinsi Sulawesi tenggara. Adanya kegiatan literasi berbasis taman baca merupakan jawaban keresahan pada rendahnya tingkat literasi di Indonesia. Untuk mengajak generasi muda ke taman baca, perlu ada pendekatan terkait apa yang mereka butuhkan. Sosialisasi mengenai pentingnya membaca atau berliterasi agar mereka termotivasi untuk datang ke taman baca. Bahkan ada edukasi bahwa membaca harus dilakukan sejak dini. Untuk memaksimalkan hal tersebut, pengelola taman baca kapo’a kerap mengajari anak-anak yang belum pandai membaca……

__Terbit pada
1 September 2021
__Kategori
Block

Penulis: Journalist Smansa